Dianiaya Teman Sekelas, Aripin Alami Luka Serius
BANGKALAN, pulau-madura.com. Seorang siswa SMPN I Kamal, Kecamatan Kamal, Kabupaten Bangkalan, Selasa (9/2), menjadi korban penganiayaan yang dilakukan oleh teman sekelasnya.
Identitas korban diketahui bernama Mohammad Zainul Aripin (13) warga Desa Banyuajuh, Kecamatan Kamal, Bangkalan. Akibat penganiayaan tersebut, hidung korban mengeluarkan darah dan pelipis kirinya terluka.
Serta kepala korban mengalami memar-memar. Hingga saat ini, korban masih mendapatkan perawatan secara intensif di pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Kamal.
Kasus penganiayaan bermula ketika korban meminjam topi terhadap Riski. Namun, topi tersebut milik Andika. Selanjutnya Andika meminta topi dengan cara mencekik leher korban.
Perkelahian pun tak dapat dihindari. Korban terlibat adu jotos dengan Andika di ruang kelas. Beruntung perkelahian dapat dihentikan setelah ada seorang guru yang secara kebetulan melintas di lokasi.
Keduanya pun langsung dimankan oleh guru tersebut dan bersedia tidak akan berkelahi lagi. Namun, saat pulang sekolah keduanya kembali terlibat perkelahian. Korban mendapatkan tendangan dari belakang oleh Andika dan beberapa pukulan.
Akibatnya, hidung dan pelipis kiri korban berdarah serta kepalanya memar-memar. Korban pun langsung dilarikan ke puskesmas Kamal untuk diobati luka-lukanya.
“Kalau hidungnya sudah sembuh, tapi tinggal luka pelipisnya yang belum sembuh. Dan yang saya khawatirkan, Aripin takut gegar otak,” terang ibu korban, Sunaryati (28), pada wartawan saat ditemui di puskesmas Kamal.
Sementara itu, Kepala sekolah (Kasek) SMPN I Kamal, H Tiin, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, kasus itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan.
“Keluarga Andika bersedia membantu masalah biaya pengobatan korban selama berada di puskesmas,” terang Tiin.
Menurut Tiin, peristiwa itu bukan suatu penganiayaan melainkan sebuah perkelahian biasa. Sehingga tidak perlu dilaporkan pada kepolisian, tapi sudah diselesaikan di sekolah dengan cara memanggil orang tua kedua belah pihak.
“Kami berharap kejadian serupa tidak terulang lagi. Cukup sekarang aja,” ungkapnya.
Identitas korban diketahui bernama Mohammad Zainul Aripin (13) warga Desa Banyuajuh, Kecamatan Kamal, Bangkalan. Akibat penganiayaan tersebut, hidung korban mengeluarkan darah dan pelipis kirinya terluka.
Serta kepala korban mengalami memar-memar. Hingga saat ini, korban masih mendapatkan perawatan secara intensif di pusat kesehatan masyarakat (Puskesmas) Kamal.
Kasus penganiayaan bermula ketika korban meminjam topi terhadap Riski. Namun, topi tersebut milik Andika. Selanjutnya Andika meminta topi dengan cara mencekik leher korban.
Perkelahian pun tak dapat dihindari. Korban terlibat adu jotos dengan Andika di ruang kelas. Beruntung perkelahian dapat dihentikan setelah ada seorang guru yang secara kebetulan melintas di lokasi.
Keduanya pun langsung dimankan oleh guru tersebut dan bersedia tidak akan berkelahi lagi. Namun, saat pulang sekolah keduanya kembali terlibat perkelahian. Korban mendapatkan tendangan dari belakang oleh Andika dan beberapa pukulan.
Akibatnya, hidung dan pelipis kiri korban berdarah serta kepalanya memar-memar. Korban pun langsung dilarikan ke puskesmas Kamal untuk diobati luka-lukanya.
“Kalau hidungnya sudah sembuh, tapi tinggal luka pelipisnya yang belum sembuh. Dan yang saya khawatirkan, Aripin takut gegar otak,” terang ibu korban, Sunaryati (28), pada wartawan saat ditemui di puskesmas Kamal.
Sementara itu, Kepala sekolah (Kasek) SMPN I Kamal, H Tiin, membenarkan kejadian tersebut. Ia mengatakan, kasus itu sudah diselesaikan secara kekeluargaan.
“Keluarga Andika bersedia membantu masalah biaya pengobatan korban selama berada di puskesmas,” terang Tiin.
Menurut Tiin, peristiwa itu bukan suatu penganiayaan melainkan sebuah perkelahian biasa. Sehingga tidak perlu dilaporkan pada kepolisian, tapi sudah diselesaikan di sekolah dengan cara memanggil orang tua kedua belah pihak.
“Kami berharap kejadian serupa tidak terulang lagi. Cukup sekarang aja,” ungkapnya.















